Sang Muzafir
“SANG MUZAFIR”
“Apakah kamu tidak ada pilihan lain, selain mau masuk biara? Apa yang
hendak kamu cari di sana? Jika kamu mencari kebahagiaan, apakah kehadiranku
selama ini tidak cukup membahagiakanmu? Kamu tega, ya!”
***
Tak terasa sudah empat tahun aku berada di sini. Pada hari-hari
yang lalu, aku berusaha
menjajakkan kaki berpijak pada jalan yang searah dengan tujuan hidupku. Aku berharap dengan cara demikian aku dapat segera
menemukan dia yang sudah lama kucari. Namun, semangatku pupus, karena pencarianku belum juga berujung. Semakin
hari semakin aku mempertanyakan
keberadaannya.
“Ah, betapa bodohnya aku berada di tempat ini. Betapa
bodohnya aku mencari kepastian yang tidak pasti. Aku sia-sia berharap, berjuang
habis-habisan mengejar dia di tempat ini. Aku sudah berusaha mengikuti segala
peraturan, seluruh dinamika hidup, dan mengenakan segala keutamaan hidup
bersama. Aku sudah meninggalkan segalanya yang kata mereka dapat menghambatku tuk
menggapainya. Aku sudah membaktikan diri sepenuhnya dalam kaul-kaul hidup
religius. Semuanya, sampai tak ada lagi yang berharga ada padaku dan termasuk
diriku yang dulu kuanggap berharga. Tetapi, mengapa semuanya sia-sia belaka? Bodoh,
aku sungguh-sungguh bodoh!”.
Kini aku mulai mempertanyakan keberadaannya. Benarkah dia
ada. Ataukah dia tidak ada. Jika dia ada dan benar-benar ada, di manakah
keberadaannya. Aku sudah lama mencari, tapi tak kutemukan. Orang-orang yang ada
bersamaku, yakni musafir seperti diriku pun tidak menemukannya ketika aku
bertanya tentang adanya. Aku berpikir kami senasib. Kumpulan orang-orang
bodoh yang mengejar kemustahilan. Kumpulan orang-orang bodoh yang mencari sesuatu
yang tidak pasti. Kumpulan orang-orang bodoh yang mencari kebenaran, tak ada.
Sore itu, aku dikejutkan oleh kedatangan seseorang dari masa laluku. Ia memelukku,
melepaskan kerinduannya yang telah lama terpendam. Hangatnya pelukan tak ada
bedanya dengan empat tahun yang lalu. Tahun-tahun di mana kami beradu mesra
sebagai sepasang kekasih. Namun, hangatnya pelukan itu berujung hambar, ketika
ia bertanya bahagiakah aku berada di tempat ini. Ketika ia bertanya, keberadaan
dia yang membuatku masih bertahan.
“Masih bahagiakah kamu berada di tempat
ini?
Lama aku tak menjawab. Sebab, aku bingung akan kebenaran
jawabanku. Aku takut jika ia tahu akan keberadaan diriku. Aku takut jika
dikatakannya bodoh. Sebab, aku pernah mengatakannya bodoh di saat ia tidak setuju
dengan pilihanku ini.
“Katakanlah.... katakan
kepadaku jika engkau bahagia di sini!
Bila tidak, aku akan menunggu kembali hadirmu,” katanya penuh harap.
Malam setelah kedatanganya, aku menemui superiorku.
Kutumpahkan segala rasa hatiku di hadapannya. Aku memutuskan untuk ke luar. Aku
tak mau lagi bertahan dalam derita ini. Namun, jawabnya teruslah mencari dan akan ada waktunya aku menemukannya. “Semakin engkau merindukan
dan mencari itu yang tidak pasti, engkau semakin dihantar pada kebenaran sesungguhnya”,
katanya lagi. Aku hanya terpaku diam membisu. Tak ada kata-kata
jawab dari mulutku. Kata-katanya itu
justru semakin membuatku bingung.
Dalam keadaan gunda gulana itu, aku dibawah oleh sosok
yang tak kelihatan ke tempat yang katanya di mana seharusnya aku berada. Aku
bahagia tetapi pada saat yang sama aku cemas. Aku bahagia karena ada pratanda
bahwa aku akan bertemu dengan Yang Lain yang sangat kurindukan tuk melihatnya.
Cemas, oleh karena ketidakpastian akan apa yang terjadi. Meski demikian, aku
percaya dengan sosok yang tak kelihatan itu, yang membawa aku melewati anak tangga
yang tak terhitung jumlahnya, hingga sampai di sebuah kapel tua. Kapel itu
terlihat gelap gulita. Tetapi, lilin-lilinnya
menyala sendiri ketika aku ada di sana. Terpampang sebuah salib Kristus di
dinding. Sebuah meja altar yang terbuat dari kaca. Sebuah patung seorang kudus
dari Montfort, yang sedang berlutut di depan arca Bunda Maria, dan sebuah
patung bersayap
di sampingnya.
“Selamat
datang muzafir. Kau sungguh-sungguh seorang muzafir sejati. Selamat datang di
rumahku.”
Aku tersentak penuh ketakutan. Sebab aku tidak
melihat siapapun di sana. Yang kulihat hanyalah benda-benda mati itu. Tak bergerak,
seperti adanya.
“Di
manakah engkau?”
“Di
sini!”, jawab yang tak kelihatan itu.
“Siapakah
engkau? Apakah engkau itu dia yang telah mengantarku ke sini?”
Tak ada lagi jawaban. Lilin-lilin
meredup, lalu mati. Suasana pun semakin sepi. Tiba-tiba kumerasa ada yang memelukku. Tangannya begitu
perkasa. Pelukannya begitu hanyat, membuat aku begitu nyaman. Gelombang
kebahagiaan memuncak di hatiku. Sungguh, aku tak pernah merasakan kebahagiaan
seperti itu.
Hari pun
berlalu. Sukacita terus mengukir di hatiku.
“Apakah kamu bahagia berada di sini?”, tanya yang tak
kelihatan itu.
“Ya, aku sungguh merasa bahagia. Tapi, mengapa engkau
hanya muncul di malam hari. Mengapa engkau tak pernah memperlihatkan wajahmu
kepadaku. Aku sangat merindukan hadirmu, nyata.”
“Aurora, itu memang akan terjadi. Tapi, belum saatnya
bagimu untuk semuanya itu. Waktunya akan terlalu begitu cepat.”
“Tapi, sampai kapankah aku harus menunggu? Sudah lama aku
merasakan hadirmu seperti ini, tapi itu tidak cukup bagiku. Aku merindukan
hadirmu nyata dalam duniaku. Sebab, bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan
kepada mereka yang mempertanyakan keberadaanmu. Mereka selalu datang dan
meminta jawabku yang nyata tentang adamu?”
“Tidak Aurora, itu terlalu cepat bagimu.”
Malam
hampir larut. Ia semakin terlelap dalam tidurnya. Aku pun tak menahan diri lagi
‘tuk melihat dirinya yang nyata. Kunyalakan lentera dan kulihat dirinya begitu
tampan, tak ada duanya. Hatiku pun bergetar penuh sukacita. Lalu, aku
mendekatinya dan memeluknya. Dan seketika itu, ia pun terbangun, mematikan
lentera serta mendorongku ke luar.
“Mengapa engkau melakukan ini? Engkau belum pantas dan
siap menerima cintaku. Akulah Sang Cinta itu sendiri. Selamat tinggal wanita
malang. Sebab, ketidakyakinanmu akan diriku telah membuatmu tak mampu memelukku
selamanya!”
Dalam kegelapan
itu ia hilang membawa amarah. Berkali-kali aku berusaha menahannya pergi.
Tetapi, ia tetap pergi tanpa permisi. Aku sunguh merasa sedih, menangis dan benar-benar
kecewa.
***
Hari pun berlalu begitu cepat. Tak seorangpun mampu
menahan geloranya. Aku pun terus
terhanyut, berkecamuk bersama lalunya waktu. Banyak pengalaman. Banyak canda tawa terukir di dalamnya. Namun, tak
sedikit pula pengalaman di mana aku merasa putus asa, sedih dan benar-benar
menangis. Dan semuanya, telah membekas pada setiap anak-anak tangga
kehidupanku. Merekalah yang menjadi saksi bisu atas diriku yang pernah ada,
berziarah. Merekalah yang memahat kata pada lembar bersejarah, bahwa aku pernah
ada. Di sini, di tempat ini.
Comments
Post a Comment